ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Posted
By Mohammad Luthvianto, S.Pd.I
Sahabat
Percikan Iman. Mempunyai anak-anak adalah dambaan dan kebanggan setiap ayah
bunda. Mereka adalah hasil cinta kasih
kedua orang tuanya, buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga,
penerus cita-cita sekaligus investasi pelindung orang tua terutama ketika
mereka sudah dewasa dan orang tua sudah berusia lanjut.
Namun,
tidak bisa dipungkiri kenyataan hidup di dunia ini bahwa ada juga anak-anak
tercinta itu yang malah membuat orang tuanya menderita baik di dunia dan bahkan
ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. Na’udzubillah
Tidak
ada orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka
tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya,
menjadi penyejuk hati dan mata baik dunia terlebih lagi ketika kita sudah tidak
ada di dunia ini. Bahkan menjadi penyebab masuk syurga.
Sahabatku,
di dalam Al-Qur’an telah diterangkan 4 macam tipe kedudukan anak dalam
hubungannya dengan orang tuanya.
Apakah
itu? Mari simak baik-baik pengabaran Al Qur’an berikut ini :
1.
FITNATUN (Ujian)
Dalam
QS. Al Anfaal 8 : 28
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ
فِتْنَةٌ وَأَنَّ
اللهَ عِندَهُ
أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya
: ” Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan
dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.
Sebagai
Fitnatun (fitnah/cobaan) Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah
manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang durhaka. Seperti
mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau
perbuatan-perbuatan lainnya yang intinya membuat susah dan resah orang tuanya.
2.
ZIINATUN HAYAT (Perhiasan Dunia)
Perhatikan
Q.S. Al Kahfi 18 : 46
أَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ
زِيْنَةُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ
الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ
عِندَ رَبِّكَ
ثَوَاباً وَخَيْرٌ
أَمَلاً
Artinya
: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan
yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih
baik untuk menjadi harapan.”
Sebagai
ziinatun (hiasan untuk kedua orang tuanya) Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa
orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang
diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di
depan masyarakat.
3.
QURROTA A’YUN (Penyejuk Hati)
Simak
dalam QS Al Furqaan 25 : 74
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ
رَبَّنَا هَبْ
لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَاماً
Artinya
: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”
Sebagai
Qurrata a’yun (penyejuk hati kedua orang tua). Ini kedudukan anak yang terbaik
yakni manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua
orangtuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila ditunjukkan untuk beribadah,
seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita.
Apabila
diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang
baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat
sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
4.
‘ADUWWUN (Musuh)
Inilah
yag paling dikuatirkan, simak QS. At Taghaabun 64 : 14
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
إِنَّ مِنْ
أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ
عَدُوّاً لَّكُمْ
فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ
تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا
وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ
اللهَ غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ
Artinya
: “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap
mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Sebagai
‘Aduwwun ( musuh orang tuanya) Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila
ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang
tidak dibenarkan oleh agama.
Kita
mungkin pernah atau bahkan sering diperlihatkan, ditampakkan oleh yang Maha
Kuasa betapa ayat-ayat Allah itu terbukti dalam alam kehidupan manusia.
Kenyataan
kehidupan menunjukkan bahwa tidak sedikit anak yang berseteru dengan orang
tuanya, misalnya orang tua yang diperkarakan oleh anaknya akibat perebutan
harta warisan, anak yang menuntut hal berlebihan diluar kesanggupan orang
tuanya bahkan sampai membunuh, Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Ada
juga contoh yang lagi “musim” sekarang
diberitakan oleh media cetak ataupun elektronik tentang tawuran para
pelajar sampai ada yang meregang nyawa, Ya Allah miris kita kalau
melihat/membaca berita seperti itu.
Ada
juga anak yang lebih mencintai kekasihnya ketimbang aqidahnya sehingga dengan
mudah ia menggadaikan agamanya, Innalillahi.
Jika
sudah begini bukan saja menyiksa orang tua di dunia tapi tentunya akan sampai
perhitungannya di akherat sana. Sering terlihat oleh kita, orang tua yang
merasa puas dan bangga ketika melihat anaknya sukses menapaki karir kehidupan
dunia, harta melimpah ruah namun anak-anaknya jauh dari nilai-nilai agama.
Kebanggaan
orang tua yang seperti itu tidaklah hakiki. Benar bahwasannya kehidupan dunia
itu hanyalah permainan dan senda gurau
وَمَا هَذِهِ
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
إِلَّا لَهْوٌ
وَلَعِبٌ وَإِنَّ
الدَّارَ الْآخِرَةَ
لَهِيَ الْحَيَوَانُ
لَوْ كَانُوا
يَعْلَمُونَ
Artinya
: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya
negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”-
(Q.S. Al-‘Ankabut 29 : 64).
Berbagai
macam contoh nyata tampak dihadapan. Namun tak jarang pula kita temui orang tua
yang sangat beruntung dan berbahagia memiliki anak-anak yang tetap dalam
nilai-nilai agama.
Mereka
penyejuk kedua orang tuanya, penentram hati ibu dan bapaknya. Merekalah yang
dikabarkan Al Qur’an sebagai Qurrata A’yun. Walaupun harta melimpah tapi tak
melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Bisa
dikatakan hal itu dijadikan mereka sebagai jembatan dan bekal hidup di akherat
nanti.
Beruntungnya
mereka yang memiliki anak-anak seperti ini, Robbi habli minassholihin Ya Rabb,
Aamiin-.
Ada
juga yang dihimpit “sempitnya” kehidupan tapi mereka tetap bersabar dan terus
mensyukuri nikmat dari Allah.
Bersyukurlah
dan teruslah tambah rasa syukur kita semua yang berhasil mengantarkan anak-anak
kita untuk menjadi Qurrata A’yun tidak hanya di dunia tapi bekal untuk di
akherat nanti.sebagaimana termaktub dalam hadits Nabi :
عَنْ أَبِيْ
هُرَيْرَةَ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُوْلَ
اللهُ صلى
الله عليه
وسلم قَالَ
: إِذَامَاتَ ابْنُ
آدَمَ اِنْقَطَعَ
عَمَلُهُ إِلَّامِنْ
ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ
بِهِ أَوْوَلَدٍصَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”(HR.
Muslim )
Anak
adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada
setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan
dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik
jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki intelegensi yang
tinggi.
Anak
dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti
kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya.
Namun
anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak
berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat
atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain.
Dari
ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar
anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun untuk mencapainya
diperlukan keserisuan dan ketekunan orang tua dalam membina mereka.
Orang
tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya. Karena anak
merupakan cermin dari orang tuanya.
Jika
orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita
ajak untuk shalat berjama’ah.
Jika
orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak
mereka-pun akan mudah menirunya.
Kemudian,
orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan
berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah.
Dan
yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan
anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman juga sangat berpengaruh kepada
perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.

Komentar
Posting Komentar